Untuk seorang ayah yang paling saya cintai. Walaupun seringkali saya tanam kekecewaan di luas lapang hati nya.
Ayah,sosok yang paling bersahaja. Rasa sayang nya kepada saya tidak di wujudkan dengan merelakan apa yang selalu saya pinta. Pendirian nya keras, lebih banyak diam daripada berbicara. Terkadang saya merasakan kurang nya keakraban diantara kami. Segala ucap dari setiap urusan lebih di peragakan dengan raut wajah yang sudah saya hafal maksud nya. pernah suatu malam saya pulang terlalu larut, dengan kesabaranya ayah selalu membukakan pintu. Di sela daun pintu yang terbuka saya melihat raut wajahnya,ada kekecewaan yang besar di kepulangan saya pagi itu. begitu juga suatu waktu ketika saya pulang lebih awal dari ritus perkuliahan,karena hari itu adalah ketika setiap mahasiswa sudah memiliki hasil ujian akhirnya masing-masing. Bergegas saya pulang menuju rumah, membawa selembar kertas yang di dalam nya terdapat pencapaian maksimal dari segala harapan yang kedua orang tua saya titipkan. Nilai akhir yang saya rasa sudah melintasi tingkat kebodohan dan kemalasan yang saya lakukan sepanjang hidup.ternyata tidak mendapatkan tepukan bahu dan pelukan hangat dari sang ayah yang saya harapkan. Ayah hanya melihat sekilas dan kembali menikmati hidangan kopi sore beserta kacang kulit nya. ada raut wajah yang sangat membingunkan, diantara kebanggaan dan kekecewaan yang sulit saya tetapkan sebagai jawaban dari kebanggaan nilai kuliah yang saya tawarkan. Sampai pada akhir nya yang saya tangkap adalah,nilai saya tetap membuatnya tidak berselera.
Sikap ayah selalu seperti itu untuk setiap emosi yang saya bawa kehadapanya, membuat saya tidak bisa benar-benar menangkap pesan yang dia berikan secara menyeluruh. Semua nya harus kembali saya terka lewat diam panjang nya. Awal-awal nya selalu ada rasa kesal yang menggemas ketika saya tidak menemukan ketegasan yang menyentak antara mana yang ayah suka atau mana yang sangat ayah benci terhadap sikap keseharian saya. Semua dibiarkan untuk tetap menjadi kegelisahan tanpa kejelasan akhir.namun seiring dengan pergolakan kedewasaan. Saya terus belajar untuk mensyukuri jika saya beserta adik-adik masih di berikan allah rezeki yang begitu besar. Dengan masih di pertahankan nya keberadaan ayah dan ibu di tengah-tengah keluarga. Saya mencoba untuk mensyukuri sikap ayah kepada saya yang seperti itu semata-mata adalah untuk tidak mengizinkan saya berhenti dan lengah dalam berusaha. Mungkin ayah berfikir,jika saya di perlakukan dengan segala buaian rasa sayang dan perhatian. Hal itu hanya akan membuat semangat juang yang tidak lagi terbakar.
Akhir-akhir ini ayah rasa nya semakin jauh, lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Setiap saya melihat tatap nya yang ada hanya segenap rasa letih dan ada sesuatu yang di harapkan kepada saya yang belum lengkap dan tidak sempurna. “sebentar lagi” kata ayah kepada adik ketika ditanya perihal keadaannya.
Seorang sahabat kemarin malam berkata “hidup itu Cuma hanya ada 2 pilihan ‘bertemu’ dan ‘berpisah’ “. Tapi saya belum bisa untuk menjumpai perpisahan karena saya belum sungguh menjadi apa-apa. Betapapun pasti nya setiap perpisahan,namun kita tetap mendambakan perpisahan yang paling terlambat. Sampai kita sungguh yakin jika ketika kita berpisah dengan sosok yang paling kita sayang, tidak akan menyisakan kerinduan. Dan tidak ada lagi segenggam harapan yang belum di tuntaskan.
sebuah awal belum lama dimulai, dan hidup belum menyampaikan sebuah akhir.
Jangan.
tidak sekarang.
SUKA
1 minggu yang lalu

1 comments:
sudah lama tidak menulis kawan..
lama juga tidak menikmati itu santapan kata-kata yg lagi-lagi terasa sangat dalam namun berliku..
Poskan Komentar