Jumat, 24 September 2010

Mengulas Dog Pound (Kim Chapiron : 2010)




"Kita terperangah, bahwa naluri binatang pada tubuh Butcher memang sungguh liar & nyata ... matanya yang tajam, urat-urat yang keluar ketika jari tanganya mengepal, nafas yang tersengal-sengal"

Tiga anak muda, tiga kasus berbeda. Serempak Mereka bertemu di Enola Vale, lembaga pemasyarakatan (lapas) khusus remaja. Montana. Amerika Utara.

Davis 16 tahun (Shanne Kippel) terpaksa harus menyisihkan tiga bulan dari hidupnya akibat kepemilikan pil ekstasi dalam jumlah banyak dengan kecenderungan untuk diperjual belikan kembali. Angel 15 tahun (Mateo Morales) ditangkap dengan alasan tindak kriminil, menodong mobil di lampu merah. Lalu Butcher 17 tahun (Adam Butcher) napi yang dipindahkan, karena melukai bola mata petugas lapas dengan ibu jari tangan kirinya ketika masih mendekam di lapas sebelumnya. Ketiga kasus berbeda yang menimpa mereka, menjadi modal bagi penonton untuk menyimak kisah di film Dog Pound lebih lanjut.

Seperti film The Escapist (Rupert Wyatt : 2008) maupun The Shawshank Redemption (Frank Darabont : 1994). Film ini mengulas kehidupan seputar lembaga pemasyarakatan yang lazim terjadi. Seperti intimidasi, upaya melarikan diri, hingga sengkarut konflik antar penghuni lapas. antara minoritas dengan mayoritas. Senior dengan junior. di film ini, rasanya fokus sang sutradara, Kim Chapiron. ingin menggiring para penonton turut berpetualang ke dalam kompleksitas konflik horizontal tersebut.

Hari-hari pertama mereka di Enola Vale merupakan mimpi buruk. satu persatu dari ketiga mereka mendapat pengalaman menyakitkan. Davis yang harus merelakan sepatu bootnya dirampas oleh Banks, Narapidana senior yang ditakuti seluruh penghuni lapas. Lalu Butcher yang pada malam hari ketika semua orang terelap, dipukuli oleh Banks Loony dan Cuz. kita yang menyaksikan serangkaian penyiksaan tersebut tentu tau, mereka yang diam. pasti menyimpan dendam, yang akan mereka keluarkan bila waktunya tepat.

Sekilas di film ini kita akan menemukan banyak kesamaan seperti film Scum (Alan Clarke : 1977) beberapa adegan dalam film Dog Pound pun tak sulit kita tebak sebagai hasil adaptasi dari film Scum. Seperti adegan Butcher yang dipukuli kelompok Banks pada malam hari, tak sengaja wajahnya kena pukul, karena pengeroyokan terjadi dalam situasi gelap & diam-diam. Keesokan paginya ketika digelar inspeksi, Butcher segera di interograsi petugas lapas perihal luka lebam di wajahnya. Sikapnya yang menolak patuh dan tidak kooperatif. Memaksa Butcher mendekam di ruang isolasi beberapa minggu. Contoh peristiwa itu dapat kita temukan di dua film tersebut (Scum & Dog Pound)

Kesabaran mereka habis, setelah secara bergiliran satu persatu dari mereka turut mendekam beberapa minggu diruang isolasi (solitary control room) oleh sebab kasus yang berbeda. hukuman isolasi tersebut, menyulut aksi balasan yang segera akan mereka lancarkan. Sekeluar mereka dari ruang isolasi, yang terjadi kemudian ialah sebuah adegan kekerasan dari kelompok yang sekian lama tertindas. Kelompok Butcher ( Butcher, Davis, Angel) melancarkan perlawanan yang tak kalah kejamnya kepada kelompok Banks (Banks,Loony, Cuz). Kita menyaksikan bagaimana Butcher menghantam wajah Loony dengan raket pingpong hingga hidungnya remuk, menandaskan pukulan kewajah Banks, hingga rupa nya tak lagi berbentuk. Kita terperangah, bahwa naluri binatang pada tubuh Butcher memang sungguh liar & nyata.

Dalam film Dog Pound, kiranya kita boleh sepakat bahwa Adam Butcher berhasil menampilkan akting luar biasa memukau. Kita akan melihat bagimana beberapa kali ia tak kuasa mengontrol emosi setelah sekian kali pula dirinya menjadi bulan-bulanan para narapidana senior. Emosi yang terpaksa keluar, ia perlihatkan melalui penampilan yang sungguh meyakinkan, seperti bukan rekayasa sebuah sandiwara. Kita melihat matanya yang tajam, urat-urat yang keluar ketika jari tanganya mengepal, nafas yang tersengal-sengal. seolah emosi yang selama ini dipendam, keluar susul menyusul dengan nafas yang sulit ia kejar. Tak pelak, porsi konflik yang meliputi Butcher mendapat perhatian lebih banyak ketimbang dua temanya, Davis & Angel.

Film ini jadi menegangkan, justru karena sifatnya yang masuk akal. Bukan sekedar adegan perkelahian tangan kosong ala gangster. tiap peristiwa dalam film ini tersusun melalui rumus sebab-akibat. Butcher beserta Davis & Angel yang selalu diperlakukan tidak manusiawi, menyimpan semangat resistensi yang siap meledak. Maka mudah kita terka, ketika separuh film berlangsung, semangat resistensi tersebut akhirnya meledak.

Mungkin sebagian dari kita tak berkeberatan menyaksikan polah Butcher yang terkesan ganas, toh kita boleh beralasan sikap keji pada diri Butcher merupakan reaksi setimpal dari ketidakadilan yang sekian kali ia terima. Kesabaran yang terkuras, akan melahirkan suatu konsekuensi baru ; pemberontakan. Lingkungan yang represif niscaya akan membawa malapetaka bagi ketertiban. Perilaku Butcher yang merusak, memang tak dapat dibenarkan secara moral. Namun, usaha memperjuangkan keadilan seperti manusia lainya, meski dengan perilaku tercela, patut kita anggap wajar. Jika tak boleh dikatakan heroik.

Bisa jadi salah satu kekurangan yang mengusik dalam film ini ialah ending yang kurang sopan, ditengah kekacauan ruang makan yang disebabkan kemarahan seluruh narapidana penghuni lapas akibat kasus bunuh diri Davis, seluruh petugas lapas dikerahkan meredam kekacauan dengan gas air mata dan peluru karet. Situasi ini di pakai Butcher untuk melarikan diri lewat pintu belakang. sayang, belum sepuluh detik Buthcer menghirup udara luar, pentungan karet petugas lapas keburu mematahkan tulang kakinya. Ia roboh tak berdaya, diseret masuk ke dalam. Sayup – sayup terdengar suara dari dalam, suasana masih ribut. Kekacauan belum bergeming, namun film telah usai.

*terus terang sejumlah foto, saya curi tanpa seizin pengelola blog di alamat ini : http://www.dogpound-lefilm.com/blog/2010/06/07/carnet-photographique-de-kim/

0 comments: