

Hampir empat bulan,saya gemar menghitung perjumpaan dengan umi (panggilan sayang untuk seorang ibu).semenjak saya dan keluarga harus berpisah sementara diantara dua rumah berjarak 300M.rumah yang dulu kami tempati bersama harus direnovasi total karena umur bangunan yang telah menahun.kami mengontrak rumah sementara yang letaknya tidak terlalu jauh.sedangkan saya sendiri menjaga rumah ini.yang ketika malam harus tidur di kamar satu-satunya yang tidak dirobohkan diantara puing reruntuhan.dan ketika pagi,selain saya harus segera berangkat kuliah.dentum palu dan bising marmer yang dilicinkan akan memaksa saya untuk pergi keluar. Perjumpaan yang dulu sering kami temukan pun harus jarang terlaksana,karena masing-masing dari kami akan berpulang ke muara yang berbeda.
Sekarang saya telah menginjak semester III,masih di kampus yang sama.yang riuh macet nya akan menguap segala pitam dari urat-urat tubuh kalian. Satu perjalanan kuliah yang semakin dalam menuju inti.yang keras dan sulit.yang tidak lagi mudah dipecahkan seperti ketika kita masih berada di lapis terluar awal perkuliahan.ganjaran yang paling masuk akal adalah porsi waktu dan tenaga yang sudah sedemikian rapih di tata selama ini. Harus kembali di rubah dengan kuliah yang selalu menuntut waktu dan konsentrasi lebih tamak.sisanya harus dikorbankan.
Dan tidak ada lagi yang bisa saya perbuat selain mengeluh. Ketika pikiran ini meluap di ambang batas kemampuan nya. masih adakah yang bisa dilakukan selain memuntahkanya walupun hanya setetes? Agar setidaknya saya punya sedikit ruang untuk bernafas. Dalam hati saya sering berfikir,adakah hidup bermurah hati memberikan Beberapa menit jeda sebelum kembali hadir ditengah ritme kesibukan yang cabik dan seperti mesin ? Memeriahkan kehidupan sampai sendi-sendi tubuh kehilangan keseimbanganya. Dari Pagi buta yang tidak berlangsung lama sejak portal dibuka,saya meluncur turun kejalan.ikut dalam antrian panjang ibukota ke suatu entah dimana mereka beragam menamakanya.sekolah,kampus maupun kantor.dan sepanjang hari saya baru akan bisa pulang jauh terlambat ketika sang penjaga portal terlelap akan sepi malam.begitu seterusnya tidak ada lagi pembedaan yang tebal antara hari sibuk dan akhir pekan.Ini bukan lagi masalah mana yang penting mana yang tidak berharga.bagi saya,kuliah hanya instrumen kehidupan.termasuk dalam satu barisan panjang dengan kehidupan sosial yang saya miliki,sahabat dan Jakarta.
Pertanyaan yang datang berikutnya adalah,lalu akan kemanakah saya harus bersandar? Ke sahabat yang saya miliki ? mereka juga punya kesibukan yang tidak kalah berbeda dengan saya. Ke pembimbing akademik dan pejabat universitas ? saya membayangkan, puluhan proposal atas dasar kepentingan bersama seringkali mereka tolak.dan apakah mereka masih rela mendengar.suatu masalah yang datang dari diri seseorang.suatu masalah yang bukan ilmiah, sesuatu yang tidak memiliki data statistik seperti total mangkir perkuliahan mahasiswa yang bisa dihitung,dijumlah,dan ditetapkan.
Meutia hafidz dalam buku nya 168 jam dalam sandera pernah menulis “ketika seseorang ditekan diluar batas kewajaranya,maka insting pertama adalah ; memberontak” saya fikir,sudah terlalu lama saya memanjakan perkuliahan.dalam arti memberikan perhatian yang berlebihan. Sore ini saya datang kembali ke rumah itu,menepis sejenak laptop yang panas dan buku yang berserakan.umi masih belum pulang.saya datang membawa roti kismis kesukaanya.di teras depan saya menanti kehadiran nya. selang satu jam,umi pulang. Kami duduk bersama,dan saya mulai bercerita panjang lebar. Sepanjang sore itu senyum nya tidak pernah putus.dan ketika umi membelai rambut saya.akhirnya saya sadar,jika orang tua.adalah orang terakhir yang akan tetap berdiri menopang setiap lemah dan rapuh yang kita bawa.menyadarkan kita semua,bahwa umi saya.ibu kalian akan tetap berada disamping kita.walaupun kita beda rumah,jarang berjumpa,bahkan ketika mereka telah tiada.
Apakah hidup masih bisa menjanjikan satu perjalanan dimana kita tidak perlu lagi bertanya kemana dan untuk apa?
Rabu, 04 November 2009
untuk hidup yang tidak pernah bisa ramah.
Senin, 05 Oktober 2009
bisa pergi,tapi mudah untuk datang lagi.
Beberapa waktu yang lalu,sore hari dijalan pulang selepas kuliah.saya menemukan kemacetan yang lain dari biasanya di lampu merah bulungan,ketika dilihat ternyata beberapa ratus meter kedepan ada ricuh riuh pelajar SMU yang berseteru.tidak bisa lagi dikeluhkan karena sama-sama telah kita hafal yang terjadi didepan sana adalah tawuran pelajar dua SMU yang tidak jauh,6 & 70.dendam kesumat yang tidak pernah berakhir sejak mahatma Gandhi masih gondrong sampai nanti mungkin ketika dajjal turun ke muka bumi membawa terror.
Perilaku yang dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan,begitupun dengan perkelahian yang diperhatikan setiap hari akan menjadi ‘sudah terbiasa’.kadang juga kehilangan rasa.tawuran itu terjadi sudah menahun.dan sampai hari itu,sudah tidak ada lagi bagi yang menonton rasa awas yang gawat.atau waspada takut terluka.saya mengambil jalur lain untuk pulang.tak apa sedikit memutar lewat rs pertamina walaupun jengkel dengan asap sate yang menghiasi sepanjang jalan.dalam hati saya berkata biarlah mereka berkelahi sepuasnya sampai tetes darah terakhir.
Begitulah dunia ini.agama dan sekolah senantiasa mengajarkan untuk hidup damai,toleransi keberagaman,dan penuh pengertian.toh pada kenyataanya hidup tidak serta merta akan selalu ramah.soeharto telah berakhir,uni soviet telah runtuh,dan dunia semakin terbuka.hidup damai bukan pilihan tunggal-sekali lagi,karena dunia sudah memberikan kebebasan penuh.setiap orang juga bebas memilih apakah harus patuh atau membangkang.
Yang tidak bisa lagi ditolak dari kompetisi,ketika semua orang berbondong-bondong mengejar satu tujuan yang sama.tujuan tersebut hanya menyediakan tempat untuk sedikit yang sempit.yang tidak bisa mendapatkan akan menyedihkan.tapi siapa yang rela tidak mendapatkan apa yang di inginkan ? mulut bisa lugas berkata ikhlas.tapi hati punya waktu dan caranya sendiri untuk pulih dari kehilangan.
Dan memang begitulah selama ini,diantara menang atau benar.selalu keinginan menang yang paling unggul.menjadi menang terasa lebih terhormat,jaminan tidak tertindas.kemenangan yang telah diperoleh akan di pertahankan,walau harus membayar mahal dan menjadi bejat.konon dahulu di turki ketika zaman kekaisaran ottoman,mehmet III yang tertua di nobatkan menjad sultan.tak lama ia segera membunuh ke Sembilan belas adik nya.agar tidak ada yang menggangu pucuk kemenganan dan kekuasaan yang ia miliki.
yang di perebutkan memang tidak kunjung habis.dari biduan dangdut,lahan parkir,sampai pulau terpencil di nusantara.selalu ada alasan untuk melabelkan sesuatu sebagai eksklusif dan berharga.perkelahian suka tidak suka,masuk ke dalam aneka ritus kehidupan manusia.yang kadang dituntut untuk bersitegang walaubagaimana pun kita berdalih tidak menghendakinya.
Hiroshima menjadi saksi 274.000 manusia mati dengan sia-sia.yang ada sekarang hanya museum untuk mengenang.tidak untuk menghindari perang. Supporter persib persija akan beranak pinak,mewariskan dinasti kebencian biru & orange kepada anak cucu mereka.kalaupun semua nya telah berakhir.itu hanyalah jeda untuk perjumpaan berikutnya.
seperti gorasix dan ravezest,yang ketika akhir pekan bisa duduk bersama di pojok café distrik hiburan kemang. mereka menghabiskan malam minggu penuh keakraban.duduk satu meja tertawa bergembira seakan lupa mereka dari dua SMU yang berbeda.yang mustahil akur.sampai ketika mereka pulang,dan senin telah datang. Mereka siap turun ke jalan.dengan bambu panjang atau sekedar ikat pinggang.
Tidak kenal teman.
Yang ada hanya benci,dan harus menang!
Titik.
Kamis, 27 Agustus 2009
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Saya tidak dapat mengingat kembali berapa lama novel ini harus tertimbun dalam tumpukan buku-buku di kamar sejak saya membeli buku ini,maklum novel ini berukuran kecil dan berhalaman tidak terlalu tebal.sehingga kerap kali tidak terlihat untuk dibaca.awalnya saya memang bersemangat untuk mencari membaca novel ringkas ini. Jika dilihat dari kelahiran novel ini sejak tahun 1952 tentunya sudah banyak beredar versi unduh gratis di dunia internet sekarang ini.namun waktu itu saya berfikir,untuk satu buah novel karya manusia setaraf Mochtar Lubis kenapa saya harus meragu untuk menyisihkan sedikit uang jajan.tidak ada rugi nya membeli bentuk nyatanya.
Mengambil plot pada waktu pasca kemerdekaaan republik ini,Mochtar Lubis menghidupkan dua tokoh utama yang saling berbenturan sifatnya satu sama lain. Isa yang berprofesi sebagai Guru SD yang pendiam,lemah lembut dan tertutup.dan Hazil,Pemuda labil yang sedang memuncak gairah perjuangan kemerdekaan nya. Didalamnya di ceritakan perbenturan pendapat antara hazil yang bertindak agresif dalam menyempurnakan kemerdekaan dengan sikap preventif yang lebih dipilih guru isa menanggapi keadaan Jakarta khususnya saat itu. Hazil selau ingin bertindak menyerang. Dan guru isa selalu dihantui rasa takut nya sehingga tidak berani untuk terjun langsung ke dalam perang.
Dalam novel ini lebih banyak di bahas tentang pribadi guru isa. Hampir semua nya isi nya tentang ketakutan yang di miliki guru isa. Semua keadaan yang mencekam saat itu menjadi bacaan yang menegangkan didalam novel ini.mungkin sebenarnya perkelahian yang paling sengit bukanlah antara para pejuang kemerdekaan dalam novel ini dengan para pasukan nica,nefis,gurka pada saat itu. Tapi perkelahian antara rasa takut guru isa akan pasukan sekutu yang tertahan begitu besar dalam dirinya yang kemudian dihadapkan pada posisi nya sebagai seorang dewasa,di mata Fatimah sebagai suami dan di mata hazil sebagai pejuang . di setiap malam tidur nya guru isa harus gelisah dan gemetar takut pasukan sekutu datang menangkap dan membunuhnya.
Ketakutan,entah itu dalam situasi apapun akan selalu ada dalam bentuk yang bermacam rupa.guru isa pun tidak mampu untuk mengalahkan rasa takut itu. rasa takut manusia tidak akan pernah habis binasa.tidak bisa serta merta lepas dari hidup manusia,tidak bisa dihindari bahkan tidak bisa kita tolak. Rasa takut akan senantiasa kita miliki dalam bentuk apa,siapa dengan kadar yang seberapa pula.maka dari itu mungkin novel ini mengambil judul “jalan tak ada ujung” karena bukan hidup jika tanpa ketakutan.manusia hanya sanggup untuk- seperti kata guru isa,berdamai dengan takut,dan belajar untuk hidup dengan rasa takutnya.
Dan memang. Segala Tujuan hidup itu adalah tentang diri sendiri. Melalui pengalaman selalu kita ingin memperkaya,merubah,merestorasi,maupun membunuh kepribadian diri kita sendiri.
“Bagiku individu itu adalah tujuan,dan bukan alat mencapai tujuan.kebahagiaan manusia adalah dalam perkembangan orang seorang yang sempurna dan harmonis dengan manusia lain. Negara hanya alat. Dan individu tidak boleh di letakkan di bawah Negara. Ini musik hidupku. Ini perjuanganku. Ini jalan tak ada ujung yang kutempuh. Ini revolusi yang kita mulai. Revolusi hanya alat mencapai kemerdekaan. Dan kemerdekaan juga hanya alat. Alat untuk memperkaya kebahagiaan dan kemuliaan penghidupan manusia-manusia”
selamat membaca
Senin, 24 Agustus 2009



Terkadang saya suka merindukan akan satu bentuk musik yang begitu sederhana.tidak perlu menderu berdegub dalam menyajikan ketukan elektroniknya.melodi yang singkat tapi tetap terdengar nakal.distorsi kecil dari gitar yang terasa gemas. dewasa ini,semua disajikan dengan musik yang begitu canggih,cepat,dan berketrampilan penuh.
Ya kesederhaan musik itu kembali saya temukan akhir-akhir ini pada satu band electrofunk dari sudut satu kota kecil montreal kanada;Chromeo. Dua lelaki yang berasal dari dua ras berbeda,dua ras yang menurut banyak orang sulit untuk bergabung dalam kepaduan formasi band yang kokoh.posisi keyboard & synthizer di isi oleh P-Thugg (lelaki berbadan besar keturunan arab),dan posisi vokal & gitar di berikan kepada Dave (calon Phd. program doctoral universitas Columbia jurusan kesusateraan prancis,yang berketurunan yahudi).dua perpaduan yang lebih berupa pembuktian bahwasanya semua yang berbeda/berseteru belumlah tidak serasi.
Musiknya begitu sederhana,namun begitu menyenangkan.mengingatkan saya kepada animo beberapa tahun yang lalu.ketika band serupa simian mobile disco,client bahkan freezepop masih masif mengudara di atmosfir musik ibukota waktu itu.mendengarkan kedua album chromeo tidak pernah ada bosannya. Kita di ajak mengalah untuk tidak selalu memikirkan tentang kerumitan hidup. Kita akan selalu di ajak menjentikan jemari,tersenyum ceria,dan sejenak melupakan segala tanggung jawab.semua tentang kegembiraan ada di album ini.
saya rasa tidak berlebihan jika kemudia BBC menulis
"A shameless return to the glistening, sex-saturated synth-pop which ruled the eighties."
selamat menikmati.dengarkan selagi hangat ! cheers!
Kamis, 23 Juli 2009
sekarang saya mulai akrab dengan futsal
Mungkin Negara-negara di amerika latin serupa peru,brazil,Uruguay,argent
Puluhan tahun berikut nya. futsal menjadi kegemaran berolahraga yang masih kita rasakan kesegaran nya sampai sekarang. menggurita kedalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Tanpa pembatasan gender,usia,bahkan tingkat taraf hidup yang beragam. Berkembang pesat segala bentuk penyewaan lapangan futsal dengan banyak pilihan fasilitas sesuai selera. Mungkin seperti menjamurnya wartel di penghujung dekade 90 an di Indonesia. Penyewaan lapangan futsal mengisi tempat-tempat ruang publik yang ada di pelosok kota dan daerah.Futsal menjadi wadah yang bukan hanya sekedar menggemburkan raga,namun menjadi alasan berkumpul masyarakat dalam melepas kepenatan hidup dengan segala tanggung jawab nya. seperti kami mahasiswa. Bermain futsal bisa menjadi pilihan untuk berolahraga dengan manfaat kesenangan yang mendalam.
Awalnya mungkin saya memang tidak pernah mempunyai keinginan yang begitu menggebu untuk mendalami olahraga ini. saya kerap bercermin akan bentuk badan yang hanya mampu menembus batas ‘memalukan’ ketika dengan gegabah bermain di lapangan futsal. Ya saya harus akui jika badan saya membengkak dengan begitu sadis tanpa ampun setiap waktu nya. jauh dari lelaki ideal sebaya saya yang mempunyai alasan untuk bermain futsal. Mereka mungkin punya postur tubuh yang mapan,kaki yang lincah,atau insting yang paling binatang untuk menendang atau merebut. Sedangkan saya,ya tafsirkan sendiri dengan sarkasme yang paling sadis sekalipun.
Namun kemarin malam, saya bermain futsal bersama kawan-kawan. Kebetulan kampus kami memiliki sebuah lapangan yang bisa di katakana serbaguna. Hampir tidak jauh berbeda luas nya dengan lapangan futsal. Walaupun tidak berbentuk indoor,yang seyogyanya menjadi karakter futsal dari penerjemahan kata futsal itu sendiri (futbol – sala ; dalam ruangan) . tapi malam itu tidak terlalu berlebihan jika kami menyebutnya sebagai olahraga futsal.awalnya saya sendiri sempat malas untuk bermain. Tapi saya pun kemudian memilih bermain daripada harus turun kejalan untuk pulang. Sudah menjadi kekesalan umum jika menembus jalan sentral gatot subroto di kisaran jam 6 – 8 malam sama saja masuk ke dalam ring tinju tepat kita membaku hantam dengan klakson kemacetan.
Dengan atribut ala kadar nya,dan komposisi pemain ala asal nya. kami pun bermain. Di dalam permainan yang kami lakukan tanpa tenggat waktu tersebut. Saya mencoba berbagai posisi dalam strategi. Saya mencoba menjadi bek,penyerang bahkan kiper. Kira kira setengahjam permainan bergulir. Ternyata saya mulai menemukan jika saya berbakat menjadi seorang kiper. Dengan alasan paru-paru saya yang tidak kuat mengatur nafas ketika berlari lalang di lapangan, dan saya yang selalu tidak bisa menggocek lawan. Maka pilihan satu satu nya dalam tujuan tidak mengecewakan permainan adalah menjadi kiper. Titik!
Dari permainan malam itu, saya menemukan satu kegembiraan dimana saya pada akhirnya punya kegiatan-yang akan segera dirutinkan oleh teman teman,menggemburkan raga. Seminggu sekali bagi saya alangkah cukup. Juga menjadi kiper bagi saya sudah cukup menyenangkan karena bagaimanapun sosok kiper adalah posisi terakhir dimana teman teman satu tim menaruh harapan di depan jarring gawang nya. dan saya cukup bangga akan pemikiran itu.
Dan permainan malam itu selesai ketika kami kelelahan. Dengan skor kemenangan tim saya 5 – 4. satu gol saya lakukan ketika saya berperan sebagai penyerang. Tapi 4 gol itu saya yang menyebabkan ketika saya dengan percaya diri menjadi kiper ;((
Mari bermain futsal.
Jumat, 03 Juli 2009
memendam lebih menyembuhkan daripada harus kehilangan mereka yang tersayang
"Ambillah bunga itu, dan bawalah ia pulang ke rumahmu. Lihat !!bunga itu sangat indah dan ia merekah tersenyum kearahmu" bisik diri di dalam hati.
Di pekarangan bunga yang luas selalu ada satu bunga yang sangat menarik,yang menjadi pembeda di antara bunga-bunga lain di sekeliling nya. Seakan tidak akan ada lagi satu bungapun yang bisa menjadi pesaing nya. Cinta,kasih sayang,rasa cemburu,dan perhatian mungkin bisa dikhususkan kepada satu bunga. Tapi pilihan untuk memetik bunga itu lalu membawa pulang dan menempatkan nya di atas pot yang paling mesra sekalipun bukan pilihan mudah yang begitu sederhana. Bagaimana mungkin bisa di relakan begitu saja dengan pergi meninggalkan keindahan seluas pekarangan bunga? Yang di dalamnya terdapat bunga-bunga yang manis madunya selalu lebih nikmat. Yang terang indahnya selalu bisa meneduhkan terik.bagaimana mungkin saya bisa merasa gembira dengan membawa pulang satu tangkai bunga yang paling baik,tanpa harus merasa kehilangan dengan meninggalkan pekarangan bunga,tempat saya bermain dan berbagi. Bunga-bunga yang kepedulian kasihnya tidak akan berujung. Bunga-bunga yang memiliki kearifan yang tak terhingga. Bunga-bunga yang tidak akan pernah pergi ketika hujan,panas,kemarin maupun esok.Bunga-bunga yang selalu hidup dan tidak akan pernah layu sebagai sahabat.
Kamis, 25 Juni 2009
ketika cinta bertasbih (2009)
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:PosterFilmKCB.jpg
Bagi saya pribadi, perlu dua kali menonton film ketika cinta bertasbih untuk kemudian menyimpulkan jika film layar lebar garapan sutradara senior chaerul umam ini, sangat jauh dari harapan yang mendalam. Ada kekecewaan yang rasa nya sulit untuk bisa ditawar lagi keputusan nya.euforia yang besar itu bagi saya mungkin juga yang lain. Mulai terbentuk ketika secara official pihak sinemArt menyatakan jika novel ketika cinta bertasbih akan segera di film kan. Memang bukan perkara mudah jika film mengadaptasikan buku maupun novel yang terlebih dulu hadir. Kecemasan terbesar bagi para penggiat film adalah bagaimana memproyeksikannya kedalam adegan-adegan yang menggugah. Karena para pembaca yang kemudian akan menjadi penonton akan bertambah bahagia ketika film itu semakin menuju kepersis-samaan.
Film ini di garap dengan menyandingkan segala kemegahan dan kemewahan dari segi promosi maupun pembuatan nya. dengan beberapa waktu yang lalu di adakan audisi-audisi penetapan tokoh di dalam nya. sampai penyebaran billboard dan pemberitaan di media yang melabelkan film ini dengan sebutan ‘mega’. Hal – hal semacam itu secara langsung menyertakan afirmasi kepada masyarakat bahwa ini lah film layar lebar yang benar-benar film. Namun, setalah pemberitaan dan persiapan yang seakan terbakar itu. Tidak ada sesuatu yang meledakkan menurut saya di dalam perjalanan film yang saya tonton ini. Ada semacam ketimpangan di sektor output. Jika boleh saya analogikan melalui input-proses-output.
Kekecewaan saya terdapat pada masih ada nya kekakuan bertutur akting para aktor-aktor pemula nya. ditambah gestur tubuh aktor pemula yang bagi saya tidak lah mengalir,masih terkonsep dan malah kurang cocok.juga pada pendalaman emosi nya, rasa nya hanya muncul dari permukaan. Para aktor pemula itu belum bisa menawarkan saya satu bentuk emosi yang layak untuk saya bawa pulang sehabis menonton. Seperti misal nya pada adegan ketika anna yang datang ke rumah husna pasca bedah buku husna. Anna dan husna duduk di kursi teras rumahnya. Dan percakapan terjadi begitu seru nya. dari si husna yang dengan sedikit gelak tawa menceritakan tentang kehidupan nya. lalu tiba tiba secara mendadak husna langsung menangis menceritakan kegetiran kakaknya azzam dalam menghidupi keluarga nya. ada perpindahan suasana yang tidak tepat dan tangis yang cenderung di buat-buat. Jika boleh saya bandingkan antara kcb dan aac. Maka saya akan lebih menaruh hati kepada film aac. Di film aac menurut saya klimaks itu terdapat pada adegan bahadur dan fahri ketika di penjara. Tapi di film kcb ini dengan sejujurnya menurut saya tidak (mungkin belum) menemukan satu pun kesan terbaik nya.
Bercermin kepada pernyataan muluk pihak pembuat film ini di media yang bercita akan membawa mega film ini ke ajang perhelatan festival film sekaliber festival cannes prancis. Juga dana pembuatan film ini yang menembus angka 20 miliar rupiah, target 5 juta penonton dan lokasi pengambilan syuting yang cukup jauh dan berbiaya besar. Maka dengan segala kerendahan hati – no offense- saya hanya mampu memberikan nilai 6 pada akhirnya.
Walaubagaimana pun tulisan ini berlandasakan pengalaman dan juga selera pribadi. Dan saya tetap menghargai secara penuh kepada usaha dan kegigihan para pembuat film ketika cinta bertasbih. Tapi saya juga tidak menafikkan jika isi film ini tidak sepadan dengan kemasan luar yang di tawarkan nya. terkadang kekecewaan akan semakin tidak dapat di tolerir. Ketika sebelum nya kita sudah di titipkan harapan yang besar untuk pencapaiannya.
Terus berkarya,dan tinggalkan kesan terbaik sebanyak-banyak nya.
Search
Categories
- buku (1)
- curahan hati (11)
- food (1)
- kabar cerita (5)
- teman dan sahabat (7)
teman luar biasa
-
Trojan Record Collection3 hari yang lalu
-
Kesialan #sekian1 minggu yang lalu
-
Demo 28 Januari 20101 minggu yang lalu
-
-
he was my energy2 minggu yang lalu
-
here we go again1 bulan yang lalu
-
Melow sekali tak mengapalah..3 bulan yang lalu
-
1st of April 200910 bulan yang lalu
-
-
Nonton MotoGP (Sepang pastinya!)1 tahun yang lalu
-
http://thelifeofdira.wordpress.com1 tahun yang lalu
-

